Suffah, Sudut Tersembunyi Dekat Raudhah yang Menyimpan Kisah Kemuliaan Sahabat Nabi

Di antara sudut-sudut Masjid Nabawi yang dipadati ribuan peziarah setiap harinya, terdapat sebuah tempat yang sering terlewatkan oleh jemaah yang baru pertama kali mengunjungi kota suci itu. Letaknya tak jauh dari Raudhah — hamparan mulia yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai taman dari taman-taman surga. Tempat itu bernama Suffah, sebuah beranda sederhana yang menyimpan kisah tentang kesabaran, keilmuan, dan kemuliaan yang melampaui segala kemiskinan materi.
Bagi sebagian jemaah, kawasan di sisi utara masjid itu mungkin hanya tampak sebagai bagian dari bangunan yang terus berkembang. Namun di balik jejaknya yang kini terlipat dalam perluasan masjid yang megah, pernah berdiri sebuah tempat yang melahirkan generasi ulama terbesar dalam sejarah Islam.
Suffah: Beranda di Sisi Kiblat
Suffah adalah sebuah bangunan beratap sederhana yang terletak di sisi utara Masjid Nabawi pada zaman Rasulullah ﷺ — dekat dengan mihrab dan tak jauh dari posisi Raudhah yang kini dikenal jutaan peziarah. Kata suffah dalam bahasa Arab berarti serambi atau beranda, dan memang itulah wujud fisik tempat tersebut: sebuah bagian masjid yang diatapi pelepah kurma, tanpa dinding yang menutup, terbuka pada angin dan terik Madinah.
Di sinilah para Ahlus Suffah menetap. Mereka bukan tamu sementara, bukan pula pengunjung musiman. Mereka adalah para sahabat yang datang ke Madinah tanpa membawa apa-apa: tanpa sanak keluarga, tanpa harta, tanpa tempat tinggal. Mereka memilih untuk tinggal di beranda masjid itu demi satu hal — agar mereka bisa senantiasa dekat dengan Rasulullah ﷺ dan menimba ilmu langsung dari sumber wahyu.
Mereka yang Memilih Ilmu di Atas Dunia
Jumlah Ahlus Suffah tidak selalu tetap. Para ulama mencatat bahwa jumlah mereka bervariasi, kadang mencapai tujuh puluh orang, bahkan ada yang menyebut hingga lebih dari empat ratus sahabat pernah menghuni atau menjadi bagian dari komunitas Suffah di berbagai waktu.
Mereka berasal dari berbagai negeri. Ada yang datang dari Yaman, dari Najd, dari Makkah. Banyak di antara mereka adalah para Muhajirin yang hijrah meninggalkan segala milik mereka demi Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
Allah ﷻ mengabadikan gambaran mereka dalam Al-Qur'an, dalam surah Al-Baqarah ayat 273:
"(Berinfaklah) untuk orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak mampu berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta."
Para ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan keadaan Ahlus Suffah — orang-orang yang tampak tenang di luarnya, padahal perut mereka kerap kosong.
Rasulullah ﷺ dan Kasih Sayang kepada Penghuni Suffah
Rasulullah ﷺ tidak pernah membiarkan Ahlus Suffah dalam kesulitan tanpa perhatian beliau. Ketika ada hadiah makanan atau kurma yang dikirim kepada beliau, sering kali beliau mengirimkannya kepada mereka. Ketika ada sahabat yang berkecukupan, beliau menganjurkan agar mereka membawa satu, dua, atau tiga orang dari Ahlus Suffah untuk makan malam bersama.
Dalam sebuah riwayat yang masyhur, Abu Hurairah رضي الله عنه — yang sendirinya pernah menjadi bagian dari Ahlus Suffah — menceritakan bagaimana kelaparan yang ia rasakan begitu berat hingga ia pernah jatuh pingsan di antara mimbar dan kamar Rasulullah ﷺ. Jarak antara mimbar dan kamar beliau itu adalah persis kawasan yang kini dikenal sebagai Raudhah.
Betapa eratnya kedekatan antara Suffah dan Raudhah — dua tempat yang dalam sejarahnya sama-sama menjadi saksi perjuangan para kekasih Allah ﷻ.
Dari Suffah, Lahir Para Imam Hadis
Yang membuat Ahlus Suffah begitu istimewa bukan hanya kesabaran mereka dalam kemiskinan, melainkan apa yang mereka hasilkan dari kesabaran itu.
Karena selalu hadir bersama Rasulullah ﷺ, mereka menjadi para penghafal sabda Nabi ﷺ yang paling kaya. Mereka mendengar hadis yang tidak didengar oleh sahabat lain yang sibuk berdagang atau bekerja. Mereka mencatat dalam hati setiap kata yang keluar dari lisan Nabi ﷺ.
Abu Hurairah رضي الله عنه, yang merupakan salah satu Ahlus Suffah yang paling lama menetap, menjadi perawi hadis terbanyak dalam sejarah Islam. Beliau pernah menjelaskan sendiri mengapa hafalan hadisnya melebihi sahabat-sahabat lain yang lebih senior: karena beliau tidak pergi ke pasar, tidak sibuk berdagang, dan selalu mendampingi Rasulullah ﷺ dalam keadaan kenyang maupun lapar.
Di antara nama-nama mulia yang pernah menjadi bagian dari Ahlus Suffah: Salman Al-Farisi, Hudzaifah bin Al-Yaman, Abdullah bin Mas'ud, dan Bilal bin Rabah رضي الله عنهم — nama-nama yang menjadi tiang penyangga tradisi keilmuan Islam hingga hari ini.
Pelajaran dari Sudut yang Terlupakan
Bagi jemaah yang berkesempatan mengunjungi Masjid Nabawi, berdiri di dekat Raudhah dan merenungkan letak Suffah yang dahulu berada tak jauh dari sana adalah sebuah perjalanan hati yang mendalam.
Suffah mengajarkan bahwa kemiskinan materi tidak pernah menjadi penghalang bagi kemuliaan ilmu. Bahwa pilihan untuk tinggal dekat dengan sumber kebenaran, meski harus mengorbankan kenyamanan dunia, adalah pilihan yang buahnya tidak akan pernah habis dimakan zaman.
Di tengah kemewahan Masjid Nabawi yang kini berdiri dengan segala keindahannya, jejak Suffah adalah pengingat bahwa peradaban Islam pertama kali dibangun bukan di atas emas dan marmer — melainkan di atas pelepah kurma, sajadah yang tipis, dan tekad yang tidak pernah goyah untuk berada sedekat mungkin dengan cahaya kenabian.
Kisah Ahlus Suffah mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju Masjid Nabawi bukan sekadar perjalanan fisik — ia adalah perjalanan hati.
Jika Anda ingin merasakan sendiri ketenangan berdiri di Raudhah, menyentuh jejak sejarah yang selama ini hanya Anda baca, kami siap menemani setiap langkah perjalanan ibadah Anda.

